KALBAR – Ancaman krisis air bersih mulai membayangi wilayah Kota Ngabang, Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat, seiring menurunnya debit Sungai Landak akibat musim kemarau.
Direktur PDAM Tirta Landak, Herkulanus, mengungkapkan bahwa persoalan layanan air bersih tidak hanya disebabkan oleh menurunnya debit sungai, tetapi juga tingginya tingkat kehilangan air (Non-Revenue Water/NRW).
Sebagaimana dilansir dari channeltujuh.com,
Herkulanus bilang, saat ini, PDAM Tirta Landak melayani 9.186 pelanggan di enam kecamatan, dengan mayoritas berada di Kecamatan Ngabang sebanyak 7.344 sambungan rumah. Namun, tingkat kehilangan air masih mencapai 38,30 persen, jauh di atas standar nasional sebesar 25 persen.
“Kebocoran jaringan perpipaan yang sudah tua dan kurang perawatan menjadi penyebab utama tingginya kehilangan air,” jelasnya.
Selain itu, kondisi keuangan perusahaan juga tertekan akibat tingginya tunggakan pelanggan yang berdampak pada arus kas operasional. Meski demikian, pihaknya terus melakukan pembenahan secara bertahap, mulai dari pengendalian biaya hingga peningkatan kualitas jaringan distribusi.
Kondisi tersebut mendorong Bupati Landak Karolin Margret Natasa turun langsung meninjau fasilitas intake air baku milik PDAM Tirta Landak di Kecamatan Ngabang, guna memastikan langkah cepat dilakukan agar pelayanan air bersih kepada masyarakat tetap berjalan. Kamis (2/4/2026).
Dalam peninjauan itu, Karolin mengungkapkan bahwa fasilitas intake tersebut menyuplai sekitar 4.000 sambungan rumah tangga di Ngabang dan sekitarnya. Namun, memasuki musim kemarau, debit air Sungai Landak mengalami penurunan signifikan, diperparah oleh pendangkalan akibat sedimentasi pasir.
“Hari ini kita lihat kondisi intake air bersih. Karena kemarau, debit air berkurang, ditambah adanya pendangkalan yang cukup parah,” ujarnya.
Hasil pemantauan menunjukkan kondisi sungai berada pada titik mengkhawatirkan. Kedalaman air yang sebelumnya mencapai sekitar 8 meter kini menyusut drastis hingga tersisa sekitar 1,4 meter. Penurunan ini berdampak langsung pada pasokan air baku menuju instalasi pengolahan.
Karolin memperingatkan, jika dalam beberapa hari ke depan tidak terjadi hujan, maka pelayanan air bersih berpotensi terganggu lebih serius.
“Ujung pipa intake sudah menyentuh dasar sungai. Kalau tidak hujan dalam dua sampai tiga hari ke depan, ini bisa jadi persoalan besar,” katanya.
Sebagai langkah darurat, pemerintah daerah segera menyiapkan penambahan pompa air guna menjaga kontinuitas layanan. Karolin meminta jajaran teknis untuk segera merealisasikan pengadaan tersebut.
“Kita perlu tambah pompa agar pelayanan kepada masyarakat tetap terjaga. Segera disiapkan,” tegasnya.
Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian kawasan hulu sungai agar tidak semakin memperburuk kondisi sumber air baku. Menurutnya, aktivitas yang merusak lingkungan di hulu harus diawasi secara ketat.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, langkah cepat pemerintah daerah dinilai krusial untuk menjamin kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi, terutama di tengah ancaman kemarau.
Karolin menegaskan, penyediaan air bersih merupakan layanan dasar yang tidak boleh terganggu.
“Air bersih adalah kebutuhan pokok masyarakat. Karena itu, penanganannya harus cepat dan tidak bisa ditunda,” pungkasnya.

















