PUSARAN.CO – Rabiul Awwal selalu menghadirkan ruang perenungan mendalam bagi seluruh umat Islam. Pada bulan yang penuh berkah ini, ingatan kolektif kita kembali pada momen agung lahirnya Nabi Muhammad saw., sosok yang tidak hanya diutus untuk membawa risalah keagamaan, tetapi juga dihadirkan sebagai bukti nyata puncak kesempurnaan ciptaan Sang Pencipta.
Dalam konteks peringatan Maulid Nabi tahun ini, Kementerian Agama mengusung sebuah tema yang sangat krusial, yaitu “Meneladani Akhlak Rasulullah: Merajut Persaudaraan, Memuliakan Kemanusiaan.” Tema ini menjadi kompas moral yang sangat relevan untuk meneropong kembali posisi manusia di tengah dinamika sosial kebangsaan hari ini.
Secara teologis, Al-Qur’an merekam dengan sangat indah bagaimana manusia didesain dalam struktur yang paling ideal, sebagaimana ditegaskan dalam Surah At-Tin ayat empat, bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya (ahsani taqwim). Dalam pandangan mufasir klasik seperti Fakhruddin Ar-Razi melalui karyanya Tafsir Al-Kabir, kesempurnaan ini tidak sekadar bertumpu pada keindahan bentuk fisik dan postur yang tegak, melainkan terletak pada modal spiritual, daya nalar, serta kedalaman budi pekerti. Sementara itu, M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menekankan bahwa taqwim mencerminkan keterpaduan yang seimbang antara jiwa, raga, dan pemikiran. Rasulullah saw. adalah manifestasi nyata dari capaian tertinggi ahsani taqwim tersebut –seorang Insan Kamil yang menjadi role model dalam memanifestasikan nilai kemanusiaan.
Namun, kitab suci juga memberikan peringatan yang sangat tegas bahwa kesempurnaan tersebut bukanlah sebuah status abadi tanpa syarat. Pada ayat berikutnya dalam surah yang sama, Allah mengingatkan potensi kejatuhan manusia ke tempat yang serendah-rendahnya (asfala safilin). Kejatuhan moral ini terjadi ketika modal dasar yang dianugerahkan kepada manusia justru diabaikan atau disalahgunakan. Artinya, derajat kemuliaan manusia sangat ditentukan oleh sejauh mana ia mampu merawat potensi fitrahnya untuk menebarkan kemaslahatan dan menghargai harkat martabat sesama.
Untuk menjaga kestabilan posisi mulia tersebut, Allah melengkapi manusia dengan instrumen pengenal (alat idrak) yang sangat vital, sebagaimana terekam dalam Surah An-Nahl ayat 78 dan Surah Al-Mulk ayat 23, yakni pendengaran (as-sam’), penglihatan (al-absar), dan hati nurani (al-af’idah). Urutan penyebutan instrumen ini menyiratkan proses kematangan biologis dan rohaniah yang bertahap. Pendengaran dan penglihatan berfungsi sebagai pintu masuknya berbagai asupan informasi dan realitas sosial, sedangkan hati nurani bertindak sebagai penapis spiritual yang mengolah informasi tersebut menjadi hikmah, simpati, dan empati.
Dalam konteks merajut persaudaraan dan memuliakan kemanusiaan, ketiga instrumen inilah yang menjadi benteng utama. Manusia yang mampu mengoptimalkan pendengarannya akan menjadi pribadi yang mau mendengarkan kebenaran serta terbuka terhadap keluh kesah sesamanya. Mata yang tajam secara spiritual akan senantiasa melihat penderitaan orang lain serta menyaksikan tanda-tanda kekuasaan Tuhan di muka bumi. Dari perpaduan penginderaan yang sehat inilah lahir hati nurani yang lembut, halus, dan sarat dengan nilai kasih sayang, persis seperti hati Rasulullah saw. yang senantiasa bergetar oleh empati.
Sebaliknya, bencana kemanusiaan dan retaknya persaudaraan selalu bermula dari tumpulnya fungsi ketiga instrumen tersebut. Al-Qur’an secara tajam menggambarkan dalam Surah Al-Baqarah ayat tujuh mengenai kondisi hati dan pendengaran yang terkunci (khatam), serta penglihatan yang tertutup. Ar-Razi menjelaskan bahwa terkuncinya indera ini merupakan konsekuensi hukum alamiah dari sikap bebal yang memelihara prasangka, kebohongan, dan penolakan terhadap kebenaran secara terus-menerus. Ketika seseorang membiarkan inderanya tersumbat oleh kebencian, maka hilanglah kemampuan obyektifnya dalam menilai realitas.
Dampak dari penutupan indera spiritual ini dijelaskan secara sangat lugas dalam Surah Al-A’raf ayat 179. Mereka yang memiliki hati namun tidak digunakan untuk memahami, memiliki mata namun enggan melihat kebenaran, dan memiliki telinga namun menolak mendengarkan kebaikan, digambarkan memiliki derajat yang merosot drastis bagaikan binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, manusia yang mengalami kebutaan dan tuli spiritual inilah yang sering kali menjadi pemantik keretakan sosial, penyebar hoaks, serta pemicu konflik yang mencederai nilai-nilai kemanusiaan.
Kejatuhan manusia pada posisi yang hina seumpama binatang ini terjadi ketika tertutupnya telinga (sam’a), mata (absar), serta matinya akal budi (fuad) untuk menerima kebenaran –baik kebenaran teologis maupun argumen sains dan realitas objektif. Ketika para pengambil kebijakan atau anggota masyarakat bersikap bebal terhadap kebenaran, lahirlah kekeliruan keputusan dan kebijakan yang berujung pada kerusakan lingkungan, ketimpangan sosial, dan penderitaan publik. Di sinilah letak korelasi mendalam bahwa kebebalan intelektual dan rohani tidak pernah berdiri sendiri, melainkan selalu berbuah kerusakan nyata di muka bumi.
Penting untuk disadari bahwa seluruh kekeliruan sikap dan kerusakan yang ditimbulkan akibat penutupan indera ini tidak dibiarkan begitu saja. Surah Al-Isra’ ayat 36 menegaskan bahwa pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, seluruhnya akan dimintai pertanggungjawaban secara mutlak di hadapan Tuhan. Setiap keputusan yang kita ambil, setiap narasi yang kita dengar dan sebarkan, serta setiap niat kebijakan yang tertanam di dalam dada memiliki konsekuensi moral dan eskatologis yang harus dipertanggungjawabkan kelak.
Meneladani Rasulullah saw. berarti mencontoh cara beliau mengelola ketiga potensi tersebut secara penuh rasa tanggung jawab. Nabi Muhammad saw. adalah pribadi yang paling peka pendengarannya terhadap penderitaan sesama, paling jeli penglihatannya dalam membaca realitas sosial, dan paling bersih hatinya dari kepentingan sesaat. Beliau mendedikasikan seluruh potensi dirinya semata-mata untuk menebarkan rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin), menjadikan persaudaraan di atas pondasi kemanusiaan, dan kebenaran sebagai pilar utama peradaban.
Imam Al-Ghazali dalam karya fenomenalnya Ihya ‘Ulumuddin mengingatkan bahwa hati manusia ibarat cermin jernih yang mudah tertutupi oleh titik-titik hitam akibat maksiat dan keburukan yang masuk melalui mata serta telinga. Rasulullah saw. sendiri memberikan panduan praktis melalui doa yang sering beliau panjatkan untuk memohon perlindungan dari keburukan pendengaran, penglihatan, lidah, dan hati. Menjaga masukan indera agar tetap terbuka pada kebenaran dan kebaikan merupakan syarat mutlak agar kita tetap memiliki hati yang sehat untuk merajut persaudaraan.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي، وَمِنْ شَرِّ بَصَرِي، وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي، وَمِنْ شَرِّ قَلْبِي، وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّي
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan pendengaranku, dari keburukan penglihatanku, dari keburukan lidahku, dari keburukan hatiku, dan dari keburukan air maniku.” (HR. Abu Dawud no. 1551, Tirmidzi no. 3492)
Momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. di bulan Rabiul Awwal ini hendaknya dijadikan sebagai titik balik untuk merefleksikan kembali kualitas kemanusiaan dan kebijakan kita. Meneladani akhlak Rasulullah bukan sekadar selebrasi seremonial tahunan, melainkan komitmen nyata untuk menyelaraskan pendengaran, penglihatan, dan akal budi kita agar senantiasa terbuka pada kebenaran ilahiah maupun ilmu pengetahuan. Dengan merawat fitrah kesempurnaan diri dan menggunakannya untuk memuliakan sesama, kita tidak hanya menyelamatkan diri dari jurang kejatuhan moral, tetapi juga mampu merajut persaudaraan yang kokoh demi terwujudnya kehidupan berbangsa yang harmonis dan bermartabat.(***)










