Ketegangan program Makan Bergizi Gratis mencapai puncaknya. Pernyataan ofensif Hashim Djojohadikusumo memicu gelombang perlawanan mahasiswa sekaligus memecah kesolidan organisasi binaannya sendiri.
Pintu-pintu ruang kuliah di berbagai kota besar mendadak riuh. Aliansi mahasiswa dan elemen rakyat kembali turun ke jalanan Jakarta, Bandung, Surabaya, hingga Medan. Pemantiknya bukan sekadar urusan menu di atas piring, melainkan sebaris kalimat bernada tinggi dari Utusan Khusus Presiden, Hashim Djojohadikusumo.
Di hadapan publik, Hashim menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah harga mati kontrak politik pemerintah. Tidak tanggung-tanggung, ia menyatakan siap mendatangi kampus-kampus untuk menghadapi langsung para pengkritik. Langkah konfrontatif ini langsung dibaca sebagai bentuk arogansi kekuasaan, menyulut api perlawanan sipil yang kini membesar di jalanan.
Para demonstrant menyoroti angka fantastis: Rp335 triliun. Anggaran jumbo yang diproyeksikan untuk program MBG ini dinilai rentan menjadi ladang korupsi baru, di tengah meluasnya kemiskinan sistemik yang belum terselesaikan.
Retak Di Rumah Binaan
Sikap tanpa kompromi Hashim nyatanya tidak hanya memanen kritik dari luar. Di dalam rumah yang ia bangun sendiri—Forum Masyarakat Indonesia Emas (FORMAS)—suasana mendadak gerah. Organisasi payung yang dideklarasikan di Gedung Dewan Pers untuk mengawal program pemerintah ini dilaporkan mulai “oleng”.
Kritik tajam datang dari internal. KH. Maksum Hidayatullah, salah satu tokoh Koalisi Formas, tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. “Saya yakin, Pak Hashim ini keceplosan. Tetapi mungkin begitulah karakternya. Merasa paling benar sendiri, paling berkuasa sendiri untuk mengurus negeri ini,” ujar kiai asal Cirebon tersebut. Menurut Maksum, Formas yang seharusnya menjadi wadah binaan kini justru dibiarkan mati suri.
Suara bernada peringatan juga ditiupkan oleh Ferry Sibarani, fungsionaris Formas lainnya. Ia meminta Hashim segera melakukan introspeksi jika ingin menjaga stabilitas politik. “Ingat, banyak warning untuk bulan Agustus. Kita berharap Pak Hashim tidak menjadi pemicu yang membangkitkan kenangan (reformasi) 1998,” cetusnya ketus.
Di tempat terpisah Yono Hartono, mantan pengurus Formas yang kini menjabat Wakil Direktur CAJ PWI Pusat ikut meradang. Yono mengatakan “dimasa lalu, saya orang pertama yang keluar dari pengurus Formas, karena saya tidak percaya dengan sosok Hashim. Hashim itu tidak akan ada empatinya, dia terlahir sudah kaya, dia tidak ngerti cara berfikirnya orang kecil. Saya anjurkan, untuk rekan – rekan yang masih ingin Formas tetap konsisten ikut serta menjaga program pemerintah dan NKRI, saya anjurkan gabung saja Ke Safri dan ikut pendidikan disiplin militer, atau bisa juga ikut ke Dasco. Saya ini PWI, saya pendukung Dasco” ungkapnya.
Saat ini, FORMAS terbelah menjadi dua faksi yang saling berhadapan: faksi loyal buta yang tetap ingin mengawal program MBG tanpa syarat, dan faksi moral yang mendesak pemerintah untuk kembali mendengarkan jeritan masyarakat bawah.
Rekam Jejak dan Bayang-Bayang Masa Lalu.
Kini, tantangan terbuka dari Hashim justru memperluas front perlawanan sipil. Alih-alih meredam suasana, program Makan Bergizi Gratis kini justru menjadi ujian sabuk pengaman politik pemerintah yang mulai retak dari dalam.
Mencuatnya konflik anggaran MBG ratusan triliun ini otomatis membuat publik membuka kembali lembaran lama rekam jejak sang pengusaha sekaligus politikus senior tersebut. Nama Hashim memang akrab dengan berbagai kontroversi besar di panggung nasional maupun global. (Fars)












