PUSARAN.CO – Era kita sekarang adalah era banjir informasi. Setiap hari kita menerima berita, foto, video, komentar, notifikasi, pesan, dan berbagai pendapat dari layar telepon genggam. Dunia seolah berada dalam genggaman. Kita mengetahui bencana di negara lain dalam hitungan detik, menyaksikan kehidupan orang yang tidak pernah kita jumpai, bahkan dapat mengikuti perdebatan politik dan konflik sosial tanpa meninggalkan rumah.
Namun, di tengah kelimpahan informasi itu, ada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah kita masih mampu melihat manusia di balik informasi?
Pertanyaan ini menjadi semakin penting di Indonesia. DataReportal mencatat bahwa pada Januari 2025 terdapat sekitar 212 juta pengguna internet di Indonesia dan sekitar 143 juta identitas pengguna media sosial. Ruang digital bukan lagi ruang tambahan dalam kehidupan sosial; ia telah menjadi salah satu ruang utama tempat manusia berjumpa, berkomunikasi, berdebat, dan membentuk pandangan tentang dunia.
Tetapi semakin banyak informasi yang kita terima ternyata tidak otomatis membuat kita semakin dekat dengan sesama manusia.
Filsuf Emmanuel Levinas dalam bukunya Ethics and Infinity (1985) menyinggung tentang hubungan manusia. Bagi Levinas, hubungan dengan manusia lain pada dasarnya adalah hubungan etis. Ia menggunakan konsep “wajah” (the face) untuk menunjuk pada kehadiran orang lain yang tidak boleh direduksi menjadi objek pengetahuan saya. Wajah orang lain seakan berkata: engkau bertanggung jawab terhadapku. Manusia lain bukan sekadar sesuatu yang dapat saya kategorikan, nilai, gunakan, atau kuasai melalui pengetahuan saya.
Jika pemikiran ini dibawa ke dunia digital sekarang, persoalannya menjadi sangat menarik. Kita memang melihat banyak “wajah” di layar, tetapi belum tentu mengalami perjumpaan dengan manusia.
Ketika seseorang menulis komentar yang berbeda dari pendapat kita, kita mungkin segera menyebutnya bodoh. Ketika seseorang melakukan kesalahan, kita menghakiminya berdasarkan potongan video beberapa detik. Ketika korban bencana muncul dalam sebuah foto, kita mungkin melihatnya sebagai gambar yang menarik untuk dibagikan. Ketika sebuah berita menyebut ribuan korban, penderitaan manusia dapat berubah menjadi sekadar angka.
Mampukah Kita Melihat Manusia di Balik Informasi?
Data Reuters Institute Digital News Report 2025 memperlihatkan paradoks tersebut. Secara global, 58 persen responden mengaku khawatir tentang kemampuan membedakan mana yang benar dan mana yang salah dalam berita online. Pada saat yang sama, konsumsi berita melalui media sosial dan platform video terus meningkat. Sekitar 36 persen responden global menggunakan Facebook dan 30 persen YouTube untuk memperoleh berita setiap minggu; Instagram dan WhatsApp masing-masing sekitar 19 persen, sementara TikTok mencapai 16 persen.
Kita menghadapi banjir informasi (infodemic). Persoalannya justru adalah bagaimana kita memperlakukan manusia yang hadir di dalam informasi tersebut. Banjirnya informasi ini bisa membuat manusia lebih rentan hoaks daripada tercerahkan
Pemikiran Levinas senada dengan pemikiran filsuf lain, terutama Martin Buber. Dalam I and Thou (1970), Buber membedakan relasi Aku-Engkau dan Aku-Itu. Dalam relasi Aku-Itu, yang lain diperlakukan sebagai objek. Sebaliknya, dalam relasi Aku-Engkau, kita berjumpa dengan pribadi yang hadir sebagai subjek.
Media digital memiliki kecenderungan kuat mengubah relasi Aku-Engkau menjadi Aku-Itu. Seseorang menjadi akun. Pendapat menjadi konten. Perdebatan menjadi engagement. Kemarahan menjadi traffic. Penderitaan menjadi viral content. Bahkan perhatian manusia dapat diubah menjadi komoditas yang menghasilkan uang.
Dalam kaitan ini, gagasan ini relevan dengan pemikiran Zygmunt Bauman. Dalam masyarakat modern yang semakin cair, hubungan manusia menjadi lebih mudah dibangun sekaligus lebih mudah diputus. Dunia digital memperkuat paradoks itu. Kita dapat memiliki ratusan atau ribuan “teman” tetapi tidak sungguh mengenal mereka. Kita dapat mengikuti kehidupan seseorang setiap hari tetapi tidak pernah benar-benar hadir ketika ia membutuhkan pertolongan.
Padahal manusia sejatinya makhluk yang hidup bersama orang lain sebagaimana dikatakan oleh Hannah Arendt. Bagi Arendt, manusia adalah makhluk yang hidup bersama orang lain dalam ruang publik. Politik dan kehidupan bersama membutuhkan kemampuan untuk melihat dunia dari perspektif orang lain. Dalam era media sosial, kemampuan tersebut menghadapi tantangan besar karena algoritma cenderung mempertemukan kita dengan informasi yang sesuai dengan perhatian dan minat kita.
Akibatnya, orang lain semakin mudah hadir bukan sebagai manusia yang harus saya pahami, tetapi sebagai “pihak lain” yang harus saya lawan.
Gejala ini dapat kita amati dalam budaya cyberbullying, cancel culture, penghukuman massal di media sosial, penyebaran hoaks, dan komentar yang kehilangan empati. Orang dapat dihina karena satu kalimat, dipermalukan karena satu kesalahan, atau dicap berdasarkan sebuah potongan informasi.
Sejatinya, informasi tentang seseorang tidak pernah sama dengan keseluruhan dirinya.
Seseorang lebih besar daripada unggahannya. Ia lebih dalam daripada komentarnya. Ia lebih kompleks daripada identitas politiknya. Ia lebih manusiawi daripada kesalahan yang pernah dilakukannya.
Karena itu, tantangan etika digital bukan sekadar bagaimana memeriksa apakah informasi itu benar, tetapi juga bagaimana memperlakukan manusia yang menjadi bagian dari informasi tersebut.
Verifikasi fakta tetap penting. Reuters Institute menunjukkan bahwa ketika orang ingin memeriksa informasi yang diragukan, sumber yang paling banyak dipercaya adalah organisasi berita yang mereka percayai (38 persen), sumber resmi (35 persen), dan pemeriksa fakta (25 persen).
Tetapi literasi digital tidak boleh berhenti pada kemampuan membedakan fakta dan hoaks. Kita membutuhkan literasi etis: kemampuan untuk bertanya, siapa manusia di balik informasi ini? Apa akibat tindakan saya terhadapnya? Apakah saya sedang memperlakukannya sebagai manusia atau sekadar sebagai objek konsumsi digital?
Mungkin inilah makna terdalam dari pemikiran Levinas bagi zaman kita. Di tengah dunia yang semakin dipenuhi layar, kita membutuhkan kembali kemampuan untuk berhenti sejenak sebelum bereaksi. Sebelum membagikan berita, kita memeriksa kebenarannya. Sebelum menghakimi seseorang, kita menyadari keterbatasan informasi yang kita miliki. Sebelum menulis komentar, kita membayangkan manusia yang akan membacanya.
Sebab di balik setiap akun ada seseorang. Di balik setiap foto ada kehidupan. Di balik setiap angka ada manusia. Dan di balik setiap informasi tentang “orang lain” terdapat sebuah wajah yang menuntut penghormatan.
Saatnya kita sadari bahwa pertanyaan terpenting di era digital mungkin bukan lagi, “Berapa banyak informasi yang saya ketahui?” Melainkan: “Setelah mengetahui begitu banyak informasi, apakah saya masih mampu melihat manusia?”
Jika jawabannya adalah ya, teknologi masih dapat menjadi sarana perjumpaan. Tetapi jika jawabannya tidak, kita mungkin sedang hidup dalam paradoks terbesar zaman digital: kita semakin dekat dengan informasi, tetapi semakin jauh dari manusia.(***)










