PUSARAN.CO – Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI membahas integrasi nilai patriotik, gigih, dan berempati (PGB) dalam dunia pendidikan melalui sesi Indonesia Youth Summit (IYS) 2026 di Teater Besar, Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM), Kamis (29/10). Sesi ini menghadirkan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, serta Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menekankan bahwa nilai patriotik perlu diwujudkan melalui karya anak bangsa yang mampu bersaing dan mendapat pengakuan dunia. Menurutnya, kebanggaan terhadap Indonesia perlu ditunjukkan melalui kontribusi nyata di tingkat internasional.
“Nasionalisme ke depan adalah bagaimana kita bisa membawa karya-karya anak bangsa di tingkat dunia, sehingga seluruh dunia menunggunya,” ujar Brian.
Sementara itu, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy mengajak generasi muda mengenali kelebihan dan kekurangan diri. Ia menekankan pentingnya memanfaatkan potensi yang dimiliki untuk saling melengkapi dan memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara.
“Setiap manusia punya kelebihan dan kekurangan. Manfaatkan kekurangan itu untuk mengisi kelebihan kita. Manfaatkan kelebihan kita untuk memberikan sumbangsih pada bangsa dan negara,” kata Rachmat.
Dari perspektif pendidikan dasar dan menengah, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq menjelaskan bahwa nilai patriotik, gigih, dan berempati sejalan dengan penguatan karakter melalui delapan dimensi profil lulusan. Dimensi tersebut mencakup, antara lain, kolaborasi, komunikasi, kemandirian, dan penalaran kritis.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga identitas kebangsaan di tengah globalisasi. Menurutnya, generasi muda perlu memiliki identitas nasional yang kuat sekaligus mampu berinteraksi dan bekerja sama dengan beragam kelompok.
Fajar turut menekankan pentingnya empati sebagai nilai kemanusiaan yang perlu diasah melalui pendidikan. Di tengah perkembangan kecerdasan buatan, pendidikan perlu membentuk manusia yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap orang lain.
“Pendidikan itu tidak hanya menyentuh otak, tetapi juga menyentuh hati,” tuturnya.
Melalui sesi ini, integrasi nilai patriotik, gigih, dan berempati diharapkan dapat memperkuat pendidikan karakter. Generasi muda diharapkan mampu menghasilkan karya yang membanggakan Indonesia, gigih menghadapi tantangan, serta memiliki kepekaan terhadap kebutuhan masyarakat.(***)











