DAERAHNEWS

Maulid Nabi di Ponpes Miftahul Huda Annidzom, Ribuan Jamaah dan Puluhan Habaib Serukan Keteladanan Rasulullah

KOTA TANGERANG — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 10 Rabiul Awal 1448 Hijriah di Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahul Huda Annidzom, Jalan KH Hasyim Ashari, Gang H. Pendek No. 21, RT 07/RW 05, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang, berlangsung khidmat dan semarak.

Ribuan jamaah bersama puluhan habaib dari berbagai wilayah hadir dalam majelis tersebut. Para santri, ulama, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta warga sekitar turut mengikuti rangkaian kegiatan yang diisi pembacaan Maulid Nabi, lantunan hadroh dan sholawat, sambutan pengasuh pesantren, serta tausiyah agama.

Suasana semakin semarak ketika ribuan jamaah larut dalam lantunan sholawat sebagai bentuk kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.

Peringatan Maulid Nabi tersebut tidak hanya dimaknai sebagai agenda keagamaan tahunan, tetapi juga menjadi momentum untuk kembali menggali dan mengaktualisasikan nilai-nilai keteladanan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

Ketua penyelenggara Maulid Nabi, Nanang Kosim, mengatakan perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW merupakan sumber keteladanan yang tidak lekang oleh perubahan zaman.

Menurutnya, perjuangan Rasulullah dalam menyampaikan risalah Islam mengajarkan umat tentang keteguhan prinsip, kesabaran, kejujuran, persaudaraan, serta kepedulian terhadap sesama.

“Maulid Nabi menjadi momentum untuk kembali mengingat perjalanan Baginda Nabi Muhammad SAW, perjuangan beliau dalam menyampaikan risalah Islam, serta akhlak mulia yang harus menjadi teladan bagi umat,” ujar Kosim.

Ia menilai generasi muda perlu mendapatkan pemahaman keagamaan yang tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga mampu diterjemahkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari.

Dengan demikian, nilai-nilai yang terkandung dalam perjalanan kehidupan Rasulullah dapat menjadi fondasi dalam membentuk generasi yang memiliki karakter, integritas, dan kepedulian sosial.

Dalam tausiyahnya, Al-Habib Syafiq bin Ali Ridho bin Syech Abu Bakar bin Salim menguraikan perjalanan kehidupan Nabi Muhammad SAW sekaligus mengajak jamaah memahami makna kecintaan kepada Rasulullah secara lebih substantif.

Menurutnya, kecintaan kepada Nabi tidak cukup hanya diwujudkan melalui ucapan maupun peringatan seremonial. Kecintaan tersebut harus tercermin dalam akhlak, perilaku, serta cara umat menjalani kehidupan sehari-hari.

Keteladanan Rasulullah SAW, kata dia, menjadi fondasi moral dalam membangun kehidupan yang berlandaskan keimanan, ketakwaan, kesabaran, persaudaraan, dan kepedulian sosial.

Pesan tersebut dinilai relevan di tengah berbagai tantangan moral, sosial, dan budaya yang dihadapi masyarakat saat ini. Keteladanan Rasulullah diharapkan menjadi rujukan etis dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis dan berkeadaban.

Perkuat Ukhuwah Islamiyah

Peringatan Maulid Nabi juga menjadi ruang silaturahmi yang mempertemukan ulama, kiai, habaib, santri, tokoh masyarakat, majelis taklim, dan warga dari berbagai wilayah.

Ketua rombongan Jamaah Majelis Taklim Miftahul Ilmi Pinggir Rawa Nerogtog, Nurdin yang akrab disapa Midun, mengatakan kehadiran mereka bukan sekadar mengikuti rangkaian acara keagamaan, tetapi juga bagian dari ikhtiar memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Menurut Midun, semarak peringatan Maulid Nabi di Ponpes Miftahul Huda Annidzom terlihat dari banyaknya jamaah yang hadir dari berbagai daerah.

“Acara ini dihadiri oleh puluhan pondok pesantren dan majelis taklim dari berbagai daerah. Kami datang bersama jamaah Miftah Ilmi untuk bersilaturahmi sekaligus mengikuti majelis dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW,” ujar Nurdin.

Ia menegaskan bahwa Maulid Nabi bukan sekadar mengenang sebuah peristiwa sejarah, melainkan bagaimana risalah dan akhlak Rasulullah dapat terus diaktualisasikan dalam kehidupan masyarakat.

“Mencintai Rasulullah bukan hanya dengan memperingati kelahirannya, tetapi dengan mengikuti akhlak, sunah dan risalahnya dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.

Pesantren Jadi Ruang Pembentukan Karakter

Pengasuh Ponpes Miftahul Huda Annidzom, KH Aminuddin Qhutbi, menegaskan bahwa peringatan Maulid Nabi idealnya melahirkan penguatan spiritual sekaligus perubahan perilaku di tengah masyarakat.

“Kami berharap di Maulid Nabi 2026 ini dapat menyatukan ukhuwah Islamiyah yang dibalut dengan keimanan dan ketakwaan serta meneladani Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari,” kata KH Aminuddin.

Ia berharap peringatan Maulid Nabi tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi menjadi momentum untuk memperkokoh komitmen umat terhadap ajaran Islam sekaligus menanamkan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

“Semoga peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW ini dapat dijadikan pegangan yang teguh terhadap agama yang agung dan sosok Nabi yang mulia, agar kehidupan kita senantiasa mendapatkan tuntunan dan terhindar dari fitnah-fitnah akhir zaman,” pungkasnya.

Selain unsur keagamaan dan masyarakat, kegiatan tersebut turut dihadiri unsur aparatur pemerintahan dan keamanan. Lurah bersama jajaran TNI dan Polri hadir sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan keagamaan serta untuk memastikan pelaksanaan acara berlangsung aman dan kondusif.

Kehadiran aparatur pemerintah, TNI dan Polri bersama ulama, habaib, santri, serta masyarakat juga menjadi bagian dari sinergi dalam menjaga keharmonisan kehidupan sosial.

Bagi Ponpes Miftahul Huda Annidzom, peringatan Maulid Nabi menjadi salah satu sarana pendidikan spiritual dan pembentukan karakter. Nilai-nilai keteladanan Rasulullah diharapkan dapat ditanamkan secara berkelanjutan kepada para santri dan generasi muda.

Peringatan tersebut sekaligus mempertegas peran pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan keagamaan, tetapi juga membentuk akhlak, etika, tanggung jawab sosial, dan kepedulian terhadap sesama.

Besarnya antusiasme jamaah serta kehadiran puluhan habaib dari berbagai wilayah menunjukkan bahwa tradisi Maulid Nabi masih memiliki tempat kuat dalam kehidupan keagamaan masyarakat Kota Tangerang.

Lebih dari sekadar mengenang kelahiran Rasulullah SAW, majelis tersebut menjadi ruang bersama untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah, memperdalam kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, serta menghidupkan kembali semangat meneladani akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.

Related Posts

1 of 907