AHY mengatakan, penguatan ekosistem kebandarudaraan menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk menggerakkan perekonomian, termasuk mendukung sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di berbagai daerah.
Ia menjelaskan, berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, salah satu fokus pemerintah ialah membangun jaringan bandara terpadu untuk mendukung konektivitas dan pertumbuhan ekonomi. Adapun salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah ketepatan waktu penerbangan.
“Kalau dilihat ini ada beberapa sasaran, tentu di antaranya terkait dengan penerbangan, berbicara on time performance penerbangan kita,” ujarnya.
“Yang jelas, setelah itu kita berupaya untuk meningkatkan daya saing. Sekali lagi competitiveness itu adalah ukuran dari prestasi kualitas layanan bandara. Dan yang terakhir memastikan agar sektor kebandarudaraan benar-benar menjadi pengungkit konektivitas nasional kita. Pertumbuhan ekonomi, pemerataan, mudah-mudahan bisa tercipta dan mengikuti,” pungkasnya.
Menurut AHY, keterlambatan penerbangan masih menjadi keluhan yang paling sering disampaikan masyarakat. Karena itu, kualitas pelayanan harus terus ditingkatkan, termasuk saat terjadi gangguan operasional.
“Ini yang selalu juga menjadi concern masyarakat luas, ketika terjadi delay yang terlalu lama atau ketidakjelasan jika ada faktor-faktor apakah cuaca atau hal-hal teknis lainnya,” ucap dia.
“Maka kita harus tingkatkan layanan ini terkait dengan on time performance,” tegasnya.
“Yang jelas, setelah itu kita berupaya untuk meningkatkan daya saing. Sekali lagi competitiveness itu adalah ukuran dari prestasi kualitas layanan bandara. Dan yang terakhir memastikan agar sektor kebandarudaraan benar-benar menjadi pengungkit konektivitas nasional kita. Pertumbuhan ekonomi, pemerataan, mudah-mudahan bisa tercipta dan mengikuti,” pungkasnya.











