Oleh: Novrizal R Topa
JAKARTA – Di pesisir barat Jayakarta, ketika pelabuhan Sunda Kelapa masih menjadi simpul perdagangan penting Nusantara, sejarah mencatat sosok pemimpin yang bukan hanya tangguh di medan perang, tetapi juga cakap dalam tata pemerintahan. Dialah Pangeran Tubagus Angke (1550–1580), yang dalam berbagai sumber juga dikenal sebagai Pangeran Jayakarta II, figur penting dalam fase awal perkembangan kota yang kini bernama Jakarta.
Tubagus Angke lahir dari garis keturunan ulama dan bangsawan. Ia merupakan cucu Syekh Datuk Kahfi dan keturunan Pangeran Panjunan. Perpaduan nilai religius dan kepemimpinan ini semakin kokoh setelah ia menikah dengan Ratu Ayu Pembayun Fatimah, putri dari Fatahillah sekaligus cucu Sunan Gunung Jati. Dalam sejumlah literatur, ia juga dikaitkan dengan lingkungan elite Kesultanan Banten sebagai bagian dari jaringan kekuasaan Sultan Maulana Hasanuddin.
Kepercayaan besar datang ketika Fatahillah yang telah menua menunjuk Tubagus Angke sebagai penerus kepemimpinan Jayakarta. Penunjukan ini bukan semata karena hubungan keluarga, melainkan karena reputasinya sebagai sosok tegas, adil, dan memiliki kemampuan militer yang mumpuni.
Dalam catatan sejarah, Tubagus Angke tampil sebagai panglima perang yang tangguh. Ia memimpin pasukan dari Kesultanan Banten untuk membantu Kesultanan Demak menghadapi kekuatan Portugis di Sunda Kelapa. Pertempuran ini bukan sekadar konflik militer, melainkan perebutan kendali atas jalur perdagangan strategis Nusantara.
Markas pasukannya diyakini berada di sekitar aliran Kali Angke. Sungai ini menjadi saksi bisu strategi perang, pergerakan pasukan, sekaligus pusat pertahanan wilayah. Dari kawasan ini, Tubagus Angke mengatur kekuatan sekaligus menjaga stabilitas Jayakarta.
Ketika menjabat sebagai Adipati Jayakarta sekitar tahun 1550 hingga 1580, wilayah ini berkembang menjadi pelabuhan penting yang menarik perhatian bangsa-bangsa Eropa. Dalam catatan mereka, ia dikenal sebagai “Bupati Jakarta” bahkan dijuluki “Koning van Jacatra” atau Regent of Jakarta, sebagai pengakuan atas pengaruh dan kekuasaannya.
Namun, lebih dari sekadar panglima dan penguasa, kepemimpinan Tubagus Angke juga mencerminkan nilai-nilai yang dalam Islam dikenal sebagai muhibah. Konsep muhibah (dari bahasa Arab muhibbah) mengandung makna cinta kasih, persahabatan, kepedulian, dan niat baik dalam membangun kebersamaan serta mempererat persaudaraan (ukhuwah).
Nilai ini tercermin dalam cara Tubagus Angke membangun hubungan antar kekuatan Islam di Nusantara. Keterkaitannya dengan Kesultanan Banten dan Kesultanan Demak bukan hanya aliansi politik, tetapi juga bentuk nyata dari semangat persatuan. Ia tidak hanya memimpin perang, tetapi juga merawat harmoni di tengah masyarakat pelabuhan yang multikultural.
Jayakarta pada masa itu adalah ruang pertemuan berbagai bangsa, budaya, dan kepentingan. Dalam situasi seperti itu, kepemimpinan yang mengedepankan muhibah menjadi kunci menjaga keseimbangan. Tubagus Angke menunjukkan bahwa kekuatan tidak hanya terletak pada senjata, tetapi juga pada kemampuan merangkul dan menyatukan.
Warisan Tubagus Angke pun berlanjut melalui garis keturunannya. Putranya, Pangeran Sungerasa atau Raden Wijayakrama, melanjutkan kepemimpinan Jayakarta. Dari garis ini pula lahir Sultan Ageng Tirtayasa, yang dikenal sebagai penguasa besar dalam perlawanan terhadap kolonialisme Belanda.
Pada akhirnya, Pangeran Tubagus Angke bukan hanya simbol kekuatan dan kepemimpinan, tetapi juga representasi nilai muhibah dalam praktik sejarah. Ia adalah figur yang menjaga Jayakarta bukan hanya dengan strategi perang, tetapi juga dengan semangat persaudaraan dan kebersamaan.
Kini, namanya diabadikan sebagai nama jalan dan kawasan di wilayah Tambora, Jakarta Barat. Di tengah riuhnya Jakarta modern, jejak Tubagus Angke tetap hidup. Bukan hanya sebagai bagian dari sejarah, tetapi juga sebagai teladan bahwa peradaban yang kuat dibangun di atas keberanian sekaligus kasih dan persatuan.
Sumber Referensi:
1. Sejarah Jakarta
2. Ensiklopedia Jakarta
3. Banten dalam Pergumulan Sejarah
4. Batavia: Kisah Jakarta Tempo Doeloe
5. Profil Orang Betawi: Asal Muasal, Kebudayaan, dan Adat Istiadatnya
6. Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta
7. Literatur sejarah tentang Kesultanan Banten dan Jayakarta (berbagai naskah kronik dan kajian sejarah)
8. Dokumentasi Museum Sejarah Jakarta mengenai silsilah Raden Wijayakrama (Pangeran Jayakarta III)














