PUSARAN.CO – Keterbatasan sinyal internet dan belum tersedianya jaringan listrik permanen tak menghalangi Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, menorehkan prestasi di Olimpiade Bahasa Arab (OBA) ke-9 tingkat provinsi. Madrasah di Desa Bari, Kecamatan Macang Pacar, itu meraih dua juara pertama sekaligus melalui siswa dan gurunya.
Meilani Putri menjadi Juara 1 Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) kategori siswa MIN, sementara Muslikhah, S.S., meraih Juara 1 kategori guru MIN. Keduanya kini bersiap membawa nama NTT ke tingkat nasional yang dijadwalkan berlangsung pada 10–12 November mendatang.
Prestasi itu lahir dari proses belajar yang berlangsung di tengah keterbatasan fasilitas. Ketika akses internet tidak selalu tersedia dan listrik permanen belum dinikmati madrasah, buku teks, papan tulis, dan ketekunan menjadi bagian penting dalam proses pembinaan Bahasa Arab.
Bagi Muslikhah, kondisi tersebut bukan alasan untuk mengurangi semangat belajar. “Keterbatasan sinyal dan listrik di madrasah kami adalah realita yang kami hadapi setiap hari. Tapi kami menolak menjadikan itu sebagai alasan untuk menyerah atau merasa inferior,” ujar Muslikhah, Senin (14/9/2026).
Menurut Muslikhah, keterbatasan justru mendorong guru dan siswa memaksimalkan sumber belajar yang tersedia. “Kami maksimalkan setiap lembar kertas dan buku panduan yang ada. Alhamdulillah, kerja keras Meilani membuktikan bahwa anak-anak pelosok tidak kalah cerdas,” katanya.
Bagi Meilani, keberhasilan tersebut juga menjadi pengalaman untuk mengatasi rasa minder ketika melihat peserta dari sekolah dengan fasilitas lebih lengkap. “Awalnya saya sempat minder melihat sekolah lain yang serba canggih. Tapi Ibu Guru selalu bilang, yang bertanding itu isi kepala dan tekad kita, bukan fasilitas sekolah kita,” ungkapnya.
Kini, pengalaman itu menjadi bekal bagi Meilani untuk menghadapi kompetisi tingkat nasional. Ia mengaku bersyukur atas capaian tersebut dan bertekad meningkatkan persiapan. “Saya sangat bersyukur dan berjanji akan belajar lebih keras. Saya ingin membawa nama baik NTT di tingkat nasional dan membuktikan bahwa anak pelosok juga bisa berdiri sejajar dengan anak-anak dari kota besar,” tuturnya.
Kepala MIN 2 Manggarai Barat, Nasrul More, S.Pd.I., menyambut capaian tersebut sebagai kebanggaan bagi madrasah. “Meilani dan Ibu Muslikhah telah membuktikan secara nyata bahwa madrasah di pelosok bukan berarti miskin prestasi,” tegasnya. Pihak madrasah, lanjutnya, akan memberikan dukungan moril dan materiil untuk persiapan keduanya menuju tingkat nasional.
Dari Desa Bari, Meilani dan Muslikhah kini membawa target baru. Setelah menaklukkan kompetisi di tingkat provinsi, keduanya akan kembali belajar dan berlatih untuk menghadapi peserta terbaik dari berbagai daerah di Indonesia. Prestasi mereka menunjukkan bahwa keterbatasan fasilitas tidak harus membatasi kesempatan madrasah dan peserta didik untuk berprestasi.(***)











