HOTELBET slot dbm.wyb.ac.lkpreparation.lsrs.lu wayacim.wyb.ac.lk
HeadlineNEWS

MTQ yang Inklusif, Profesional, dan Berdampak

PUSARAN.CO – Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026 di Semarang kembali mempertemukan putra-putri terbaik daerah dalam semangat mencintai Al-Qur’an. MTQ kali ini layak dibaca lebih jauh dari arena perlombaan. Ia menjadi momentum untuk memastikan bacaan, hafalan, pemahaman, dan pengamalan Al-Qur’an bergerak dalam satu garis pembinaan. MTQ perlu memperkuat karakter, merawat persaudaraan, dan menghadirkan agama yang menyejukkan.

Karena itu, MTQ perlu terus diarahkan menjadi perhelatan yang inklusif, profesional, dan berdampak. Inklusif berarti membuka kesempatan seluas-luasnya; profesional berarti menjunjung mutu, objektivitas, dan integritas; sedangkan berdampak berarti menghadirkan perubahan setelah lampu panggung padam. Ukuran keberhasilan tidak cukup berhenti pada daftar juara dan perolehan medali. Prestasi tetap penting sebagai bagian dari ekosistem pembinaan yang berkelanjutan.

Dari sisi inklusivitas, MTQ Nasional XXXI menghadirkan langkah yang patut diapresiasi. Kementerian Agama memberi ruang bagi penyandang disabilitas melalui ekshibisi bagi Teman Tuli dan golongan tilawah bagi disabilitas netra. Ekshibisi Teman Tuli pada 14–16 September 2026 diikuti peserta dalam tilawah bahasa isyarat dan kitabah Al-Qur’an Isyarat. Kehadiran mereka menegaskan bahwa syiar Al-Qur’an semestinya dapat diakses anak bangsa tanpa terkecuali.

Namun, inklusivitas jangan berhenti di panggung nasional. Ia perlu tumbuh sejak tingkat desa, sekolah, pesantren, kecamatan, dan kabupaten. Pembinaan, pelatih, fasilitas, perangkat penilaian, dan kesempatan tampil harus semakin ramah bagi kelompok yang memiliki keterbatasan akses. Dengan begitu, inklusivitas menjadi budaya pembinaan Al-Qur’an, bukan sekadar agenda simbolik.

Profesionalitas juga menjadi kebutuhan yang tak dapat ditawar. MTQ menyangkut kepercayaan publik, sehingga kompetensi peserta dan pembina, integritas hakim, tata kelola, transparansi penilaian, dan pemanfaatan teknologi perlu terus diperkuat. Digitalisasi dapat membantu menata proses secara lebih akuntabel, tetapi teknologi tidak akan berarti tanpa manusia yang jujur, kompeten, dan berkomitmen terhadap keadilan. Profesionalitas juga berarti siap menerima kritik dan memperbaiki sistem.

Di sinilah kritik konstruktif perlu diberikan. Jangan sampai energi besar yang dikeluarkan untuk MTQ lebih kuat pada seremoni daripada pembinaan berkelanjutan. Apabila ukuran keberhasilan terutama ditentukan oleh siapa yang menjadi juara, kita berisiko melupakan tujuan lebih besar: membangun generasi yang dekat dengan Al-Qur’an sekaligus mampu menerjemahkan pesannya dalam kehidupan sosial. MTQ harus menjembatani prestasi, pendidikan, dan pengamalan.

M. Quraish Shihab, melalui Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat (1996), mengajak pembaca melihat Al-Qur’an dalam hubungan dengan persoalan kehidupan. Perspektif ini relevan bagi MTQ: kemampuan membaca dan menghafal harus menjadi pintu menuju pemahaman, bukan tujuan yang berhenti pada keterampilan teknis. Al-Qur’an yang dibaca dengan baik harus menjadi nilai yang dipahami dan diamalkan.

Refleksi serupa tampak dalam ungkapan KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus. Dalam tulisan NU Online berjudul “Sindiran Gus Mus kepada Para Pembaca Al-Qur’an” (2017), ia mengatakan bahwa ketika membaca Al-Qur’an dirinya merasa “tersinggung terus”. Ungkapan itu mengajak pembaca bercermin: ayat-ayat suci semestinya mampu mengoreksi kesombongan, ketidakjujuran, ketidakpedulian, dan kelemahan diri.

Pesan tersebut menemukan relevansinya dalam MTQ Nasional XXXI. Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa MTQ tidak boleh berhenti pada kompetisi, tetapi harus menjadi momentum menghadirkan living Quran, yakni nilai Al-Qur’an yang hidup dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Setelah MTQ selesai, pertanyaan pentingnya bukan hanya siapa pemenangnya, melainkan apa yang berubah di masyarakat. Apakah kejujuran tumbuh, kepedulian menguat, persaudaraan terjaga, dan akhlak semakin baik?

Pada akhirnya, MTQ yang inklusif membuka pintu bagi semua, MTQ yang profesional menjaga keadilan, dan MTQ yang berdampak memastikan cahaya Al-Qur’an tetap menyala setelah perlombaan berakhir. Juara memang penting, tetapi kemenangan yang lebih besar ialah ketika Al-Qur’an tidak hanya merdu dilantunkan, melainkan hadir sebagai nilai yang membentuk akhlak, memperkuat persaudaraan, dan menghadirkan kemaslahatan bagi bangsa.(***)

 

Related Posts

1 of 958