Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengatakan, penggunaan SAF akan menjadi tonggak awal transformasi industri penerbangan nasional menuju konsep bandara rendah emisi.
“Tentu kita harapkan produksinya juga bisa hulu ke hilir di dalam negeri sendiri. Dan harus memenuhi standar kualitas serta mengacu pada standar keberlanjutan yang ditetapkan oleh ICAO (Organisasi Penerbangan Sipil Internasional),” ucap dia.
Kebijakan tersebut, katanya, merupakan bagian dari agenda dekarbonisasi sektor penerbangan yang sedang disiapkan pemerintah. Langkah itu mencakup pengurangan konsumsi energi, konversi sumber energi, hingga peningkatan efisiensi penggunaan sumber daya di kawasan bandara.
“Sehingga ekosistem kebandarudaraan itu juga sekaligus kita orientasikan pada upaya dekarbonisasi. Konsep bandara emisi nol bersih. Ini juga bukan sesuatu yang muluk-muluk, tetapi bisa kita jalankan dan ada sejumlah bandara di dunia yang juga sudah mengadopsi berbagai pendekatan infrastruktur yang zero atau net zero emission,” ujar AHY.
Di sisi lain, ia mengingatkan industri penerbangan masih menghadapi tantangan global akibat gejolak geopolitik yang memengaruhi harga energi. Menurutnya, biaya bahan bakar saat ini menyumbang sekitar 40% dari total biaya operasional maskapai.
Ia menuturkan, penerapan SAF tahap awal hanya akan berlaku untuk penerbangan internasional yang berangkat dari dua bandara utama tersebut. Pemerintah menargetkan implementasi ini menjadi pijakan sebelum penggunaan bahan bakar ramah lingkungan diperluas ke depan.
“Pemberangkatan dari dua kota utama internasional, 1%. Jadi mudah-mudahan ini bisa kick off di 2027 sebagai milestone awal, sebelum kita lebih gencar lagi untuk menggalakkan penggunaan sustainable aviation fuel,” ujarnya.
Karena itu, pemerintah menilai transformasi menuju bahan bakar penerbangan yang lebih berkelanjutan menjadi salah satu strategi penting, untuk memperkuat daya saing industri penerbangan nasional dalam jangka panjang, sekaligus mendukung target pembangunan ekonomi yang tetap sejalan dengan upaya menjaga lingkungan.











