PUSARAN.CO – Perkembangan teknologi membuka peluang untuk memperkaya proses pembelajaran bahasa, sekaligus menuntut penguatan literasi dan karakter siswa. Hal tersebut menjadi landasan penyelenggaraan Annual International Symposium of Foreign Language Learning (AISOFOLL) ke-17 oleh SEAMEO QITEP in Language (SEAQIL) yang berlangsung di Jakarta, Rabu (7/10).
Mengusung tema “Shaping Future Generations: Strengthening Technology-Enhanced Language Teaching on Literacy and Character Development”, simposium ini mempertemukan guru, tenaga kependidikan, peneliti, dan praktisi pendidikan bahasa untuk membahas pemanfaatan teknologi yang selaras dengan tujuan pembelajaran serta kebutuhan murid.
Pelaksana Tugas (Plt.) Biro Kerja Sama, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Lukmanul Hakim, dalam sambutannya menyoroti pentingnya penguatan kapasitas guru dalam menghadapi perkembangan teknologi. Menurutnya, seiring dengan perkembangan teknologi, guru perlu memperoleh kesempatan untuk memperkuat pengetahuan pedagogis serta kemampuan dalam memilih dan memanfaatkan teknologi secara tepat.
“Kemendikdasmen terus mendukung pengembangan profesional guru, antara lain dalam bidang Pembelajaran Mendalam, bahasa Inggris, literasi dan numerasi, kepemimpinan sekolah, serta Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). Dengan harapan mendorong penggunaan teknologi yang lebih luas serta memastikan guru dapat mengambil keputusan yang tepat dalam memanfaatkan teknologi dalam mendukung proses pembelajaran,” ungkap Lukmanul.
Sejalan dengan hal tersebut, Direktur SEAQIL, Brian Arieska Pranata, menekankan bahwa ketersediaan perangkat dan aplikasi perlu disertai kemampuan guru untuk menggunakannya secara tepat. Diskusi, kolaborasi, dan pengembangan profesional guru menjadi bagian penting dalam merespons perubahan tersebut. “Teknologi memberi kita lebih banyak alat, tetapi tidak secara otomatis mengajarkan kita cara menggunakannya dengan tepat,” ujar Brian.
Kepada seluruh peserta, Brian mendorong untuk berbagi pengalaman, saling belajar, dan menemukan gagasan yang dapat diterapkan di kelas maupun di lembaga masing-masing. Dalam pendidikan bahasa, pemanfaatan teknologi dijelaskannya perlu mendukung kemampuan murid untuk dapat membaca secara kritis, berkomunikasi secara efektif, dan menggunakan informasi secara bertanggung jawab.
Ia juga turut menyoroti penggunaan kecerdasan artifisial yang semakin memudahkan murid menghasilkan teks dan menemukan gagasan. “Kemudahan tersebut sejatinya perlu disertai kemampuan berpikir kritis, memeriksa informasi, dan bertanggung jawab atas karya mereka. Pembelajaran bahasa juga berperan dalam membangun sikap saling menghormati dan kemampuan berkomunikasi di tengah keberagaman,” terang Brian.
Salah satu dari enam pembicara utama, Aphiwit Liang-Itsara, asal Mahidol University, Tailan, menekankan pentingnya menghubungkan teknologi dengan motivasi dan tujuan murid mempelajari bahasa. Menurutnya, antusiasme terhadap aplikasi baru perlu dikembangkan menjadi motivasi belajar yang berkelanjutan melalui kegiatan yang relevan dengan pengalaman dan kebutuhan murid. “Teknologi menjadi bermakna dalam pembelajaran ketika terhubung dengan tujuan, pengalaman, identitas, dan alasan siswa mempelajari bahasa,” jelas Aphiwit.
Simposium ini menghadirkan enam pembicara utama dari berbagai institusi di dalam dan luar negeri. Mereka adalah Amin Davoodi dari University of Wyoming, Amerika Serikat; Aphiwit Liang-Itsara, dari Mahidol University, Thailand; Ju Seong Lee dari The Education University of Hong Kong, Cina; Ni Komang Arie Suwastini dari Universitas Pendidikan Ganesha, Indonesia; Suzanne Choo dari National Institute of Education, Nanyang Technological University, Singapura; dan Vinh To dari University of Tasmania, Australia. Empat pembicara mengikuti simposium secara luring, sementara dua lainnya berpartisipasi secara daring.
AISOFOLL Ke-17 diikuti 390 peserta dari 16 negara di Asia, Eropa, dan Afrika, dengan 45 peserta hadir secara luring dan 345 secara daring. Simposium ini juga menghadirkan 12 pemakalah dari institusi di Indonesia, Malaysia, Timor-Leste, dan Taiwan. Makalah yang dipresentasikan dipilih melalui proses penilaian dari 57 pengajuan dan direncanakan akan dipublikasikan melalui Proceeding of AISOFOLL (PROCAIS).
Guru, tenaga kependidikan, peneliti, dan praktisi pendidikan bahasa dapat mengakses hasil penelitian serta praktik baik yang telah dipublikasikan melalui laman PROCAIS di https://www.procais.qiteplanguage.org/index.php/proceeding. Publikasi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai referensi untuk mengembangkan pembelajaran bahasa dan memperluas pertukaran pengetahuan dan praktik baik pembelajaran dalam pendidikan bahasa. Melalui berbagi penelitian dan praktik pembelajaran serta peluncuran publikasi, SEAQIL memperkuat perannya sebagai pusat regional dalam pengembangan kompetensi guru dan tenaga kependidikan bidang bahasa di Asia Tenggara.***











