NEWS

Evaluasi Total Penerima MBG: Fokus Dialihkan ke Ibu Hamil, Kelompok Rentan dan Daerah 3T

Pemerintah mulai melakukan penataan ulang penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan mengurangi penyaluran kepada sekolah-sekolah yang dinilai berasal dari kelompok ekonomi mampu. Langkah tersebut dilakukan agar program unggulan Presiden Prabowo Subianto lebih tepat sasaran dan memberi manfaat lebih besar kepada masyarakat yang paling membutuhkan.

Evaluasi penerima manfaat dilakukan bersamaan dengan kajian efisiensi pelaksanaan MBG yang pada 2026 telah dialokasikan anggaran sebesar Rp268 triliun. Fokus program ke depan diarahkan kepada masyarakat di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

“Iya benar. Maksudnya yang mampu, yang kaya. Jadi nanti misalnya sekolah-sekolah kaya,” kata Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik Sudaryati Deyang, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (11/6).

Menurut Nanik, selama ini Program Makan Bergizi Gratis diberikan kepada seluruh siswa tanpa membedakan latar belakang ekonomi maupun jenis sekolah yang ditempati.

Melalui penataan ulang tersebut, pemerintah ingin memastikan kelompok masyarakat yang memiliki risiko gizi lebih tinggi memperoleh prioritas utama.

“Kami ingin memastikan kelompok yang paling membutuhkan menjadi prioritas utama,” ujarnya.

Sesuai arahan Presiden Prabowo, pemerintah akan memperluas fokus program kepada kelompok yang dikenal sebagai 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

Kelompok tersebut dinilai memiliki kebutuhan gizi yang sangat penting karena berkaitan langsung dengan kesehatan ibu dan tumbuh kembang anak pada masa awal kehidupan.

Urgensi Program Makan Bergizi Gratis semakin terlihat dari kondisi stunting nasional yang masih menjadi tantangan besar pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang diumumkan Kementerian Kesehatan, prevalensi stunting nasional turun menjadi 19,8 persen pada 2024, dari 21,5 persen pada 2023. Capaian ini merupakan pertama kalinya angka stunting Indonesia berada di bawah 20 persen, namun masih jauh dari target nasional sebesar 14,2 persen pada 2029.

Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa percepatan penurunan stunting memerlukan intervensi yang lebih fokus pada kelompok rentan, terutama ibu hamil, ibu menyusui, dan balita pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Karena itu, langkah pemerintah memprioritaskan kelompok 3B dalam Program Makan Bergizi Gratis dinilai sejalan dengan upaya menekan stunting sekaligus meningkatkan kualitas generasi masa depan Indonesia.

Related Posts

1 of 797