DAERAHNEWS

MTC Karya Persada Muna Cetak Ribuan Pelaut Bersertifikat Internasional, Namun Minim Dukungan Lokal

 

MUNA – Maritim Training Center (MTC) Karya Persada Muna terus memperkuat posisinya sebagai salah satu lembaga pelatihan keterampilan pelaut berstandar internasional di Indonesia. Didukung fasilitas yang memenuhi kualifikasi global, lembaga ini mampu mencetak tenaga pelaut kompeten melalui berbagai program sertifikasi yang diakui secara internasional.

Pimpinan MTC Karya Persada Muna, Yan Zakri Tanjung, yang menjabat sejak 2025 dan sebelumnya merupakan instruktur, menegaskan bahwa ketersediaan fasilitas berstandar menjadi faktor utama tingginya produksi sertifikat keterampilan pelaut di Indonesia. Menurutnya, kualitas sarana dan prasarana pelatihan sangat menentukan pengakuan internasional terhadap sertifikasi yang diterbitkan.

“Fasilitas menjadi kunci. Ketika sarana memenuhi standar, maka sertifikasi internasional bisa diterbitkan dalam jumlah besar,” ujarnya.

Mantan kapten kapal yang memiliki pengalaman pelayaran lintas Asia, Australia, dan Afrika itu menjelaskan, saat ini MTC Karya Persada Muna baru menerbitkan empat jenis sertifikat keterampilan utama. Meski terbatas, kontribusinya cukup signifikan. Sejak mulai beroperasi pada 2017, lembaga ini telah meluluskan lebih dari seribu peserta bersertifikat.

Khusus pada tahun 2025, MTC mencatat penerbitan sekitar 600 sertifikat Basic Safety Training (BST). Peserta pelatihan tidak hanya berasal dari Sulawesi, tetapi juga dari Pulau Jawa, yang menunjukkan semakin luasnya jangkauan dan kepercayaan terhadap lembaga ini.

Dengan dukungan pengakuan internasional seperti sertifikasi ISO 9001: 2015 serta standar dari International Maritime Organization (IMO), MTC Karya Persada Muna dinilai memiliki potensi besar menjadi pusat pelatihan pelaut unggulan di kawasan timur Indonesia, khususnya Sulawesi Tenggara.

Namun demikian, capaian tersebut belum diiringi dengan dukungan optimal dari daerah. Yan Zakri menyayangkan masih minimnya partisipasi sekolah-sekolah vokasi kemaritiman di Sulawesi Tenggara yang memanfaatkan fasilitas dan program sertifikasi di MTC.

“Padahal kami sudah memiliki pengakuan internasional. Harapannya ke depan, peserta semakin banyak dan dukungan dari daerah juga meningkat,” ungkapnya. Sabtu (11/4/2026).

Ia juga berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian dan dukungan lebih serius, mengingat MTC Karya Persada merupakan satu-satunya pusat pelatihan maritim di Sulawesi Tenggara dengan standar internasional.

“Ke depan, MTC Karya Persada Muna tidak hanya diharapkan menjadi lembaga pelatihan, tetapi juga motor penggerak peningkatan kualitas sumber daya manusia maritim Indonesia agar mampu bersaing di tingkat global,” harapnya.

Lebih jauh Yan menerangkan peran penting Diklat keterampilan pelaut STCW (Standards of Training, Certification, and Watchkeeping for Seafarers) merupakan konvensi internasional dari IMO (International Maritime Organization) yang menetapkan standar minimum pelatihan, sertifikasi, dan dinas jaga bagi pelaut di seluruh dunia.
Sertifikat

“Empat sertifikat yang diterbitkan MTC Karya Persada memiliki peran krusial karena merupakan bagian dari standar internasional Standards of Training, Certification, and Watchkeeping for Seafarers (STCW) 2010. Standar ini menjadi syarat utama bagi setiap pelaut yang ingin bekerja di atas kapal,” tutur Yan kepada Pusaran.co.

Yan bilang, setiap calon pelaut wajib memiliki buku pelaut sebagai dokumen resmi untuk bekerja di kapal. Untuk mendapatkannya, mereka harus mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat), salah satunya melalui program Basic Safety Training (BST).

“BST menjadi pelatihan dasar keselamatan yang wajib diikuti semua pelaut, baik untuk kapal niaga, kapal perikanan, maupun kapal industri seperti sektor pertambangan, offshore, dan onshore,” imbuh Yan.

Selain BST, terdapat tiga sertifikat lain yang tak kalah penting. Medical First Aid (MFA) membekali pelaut dengan keterampilan penanganan medis darurat di atas kapal. Advanced Fire Fighting (AFF) memberikan kemampuan lanjutan dalam mengendalikan kebakaran besar di kapal. Sementara Survival Craft and Rescue Boat (SCRB) melatih pelaut dalam mengoperasikan sekoci dan kapal penyelamat saat kondisi darurat.

“Keempat sertifikat tersebut merupakan bagian dari Sertifikat Kompetensi/Profisiensi (COP) yang wajib dimiliki pelaut dan harus diperbarui setiap lima tahun sekali sesuai ketentuan STCW 2010,” pungkas Yan.

Related Posts

1 of 826