PUSARAN.CO – Hari ini kita merenungkan sebuah pesan yang sangat radikal dari Injil Matius. Ketika Yesus memberitahukan tentang penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya, Dia juga memberikan syarat mutlak bagi kita semua yang berkumpul di tempat ini sebagai murid-Nya. Yesus berkata: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku.”
Mari kita sadari bersama, panggilan ini bukan tentang mencari penderitaan fisik atau tampil menderita agar terlihat suci. Ini adalah panggilan tentang komitmen, kesetiaan, dan konsistensi iman di tengah realitas kehidupan sehari-hari kita.
1. Menyangkal Diri: Menggeser Fokus dari “Aku” ke “TUHAN”
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,
Menyangkal diri (denying oneself) artinya memindahkan pusat semesta hidup kita. Dari yang semula berpusat pada ego kita, beralih berpusat pada kehendak Allah.
Di dalam keluarga atau komunitas seperti ini, menyangkal diri berarti menundukkan ego—menahan diri dari keinginan untuk selalu benar, selalu menang, atau selalu dipuji.
Di tempat kerja atau sekolah, ini berarti mengutamakan orang lain dan menolak keinginan daging. Kita memilih jujur daripada kompromi dengan korupsi atau manipulasi demi keuntungan pribadi.
2. Memikul Salib: Siap Menanggung Konsekuensi Iman
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,
Memikul salib (taking up the cross) berarti siap menanggung risiko karena kita memilih setia kepada Yesus. Saat kita memilih hidup benar, dunia sering kali tidak menyukai kita.
Kita ditantang untuk berani tampil beda. Ketika semua orang di kantor atau sekolah ikut arus yang salah, kita tetap mempertahankan nilai moral Kristiani, walau risikonya dicap “sok suci” atau dikucilkan.
Memikul salib juga berarti tetap setia dalam kesulitan dan mau mengampuni. Sangat mudah menyembah Tuhan saat hidup kita diberkati. Namun, salib yang sejati diuji saat kita tetap menyembah Tuhan dengan tulus di tengah badai ekonomi, sakit penyakit, atau saat kita memilih mengampuni orang yang telah menyakiti hati kita.
3. Menjadi Cerdik dan Tulus di Lingkungan yang Menantang
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,
kita tahu bahwa bertahan di lingkungan yang beracun (toxic) sering membuat kita lelah secara mental (burnout). Namun, Yesus tidak meminta kita menjadi eksklusif, menarik diri, atau menjadi hakim bagi sesama. Yesus mau kita “cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.”
Tetapkan batas yang jelas, bukan tembok pemisah. Kita tetap bisa berteman dan mengasihi mereka, tetapi dengan tegas menolak ikut serta ketika mereka mulai bergosip atau berbuat curang.
Miliki “jangkar” dan dukungan. Kita tidak akan mampu memikul salib ini sendirian. Itulah mengapa kita membutuhkan ibadah kelompok sebagai support system untuk saling mendoakan dan “mengisi ulang” energi rohani kita sebelum kembali menghadapi dunia luar.
Renungan untuk kita,
Keberhasilan iman kita tidak diukur dari seberapa nyaman hidup kita, melainkan dari seberapa setianya kita mengikut Yesus saat situasi menjadi sulit. Mari kita bawa perenungan ini ke dalam hidup kita masing-masing sepanjang minggu ini.
Doa
Allah Bapa Kami di dalam Surga kami mengucap syukur atas karya keselamatan yang boleh kami terima melalui Putera-Mu terkasih Tuhan Kami Yesus Kristus. Terima kasih karena Engkau telah mengorbankan diri-Mu di kayu salib demi keselamatan kami. Kami mengaku, sering kali kami egois, lebih mengejar kenyamanan duniawi, dan enggan memikul salib kami.
Hari ini, kami berdoa sebagai umat yang Engkau kasihi. Biarlah kuasa Roh Kudus-Mu memenuhi kami. Berikan kami kekuatan untuk menundukkan ego dan ambisi pribadi kami di bawah kehendak-Mu. Berikan keberanian kepada kami untuk tetap hidup jujur, tulus, dan menjadi terang di tempat kerja, sekolah, maupun keluarga kami masing-masing. Doa ini kami panjatkan dengan perantaraan Kristus dalam cinta kasih Roh Kudus yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.(****)










