PUSARAN.CO – Kekayaan manuskrip Islam Nusantara kembali membuktikan perannya sebagai jembatan diplomasi budaya dan peradaban di tingkat internasional. Kekayaan teks kuno ajaran tarekat Rifa’iyyah asal Indonesia menjadi salah satu perhatian akademisi dunia dalam International Joint Seminar di Istanbul, Turki.
International Joint Seminar diselenggarakan oleh Institute for Sufi Studies Üsküdar University. Forum ini mengangkat tema “Bridging Mystical Philosophy and Arts in Sufism: Poetry, Music, and Rituals”.
Tampil sebagai salah satu pembicara, Guru Besar Filologi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Oman Fathurahman, yang memaparkan temuan terkait melimpahnya teks-teks kuno ajaran tarekat Rifa’iyyah asal Indonesia. Prof. Oman mengungkapkan fakta bahwa tradisi Rifa’iyyah Nusantara tidak hanya terbatas pada seni pertunjukan atau praktik lokal seperti Debus di Banten dan Rapai di Aceh.
“Saya tidak pernah menyangka kalau manuskrip-manuskrip tentang tarekat Rifa’iyyah di Nusantara dapat menjadi jembatan terhubungkannya peradaban Islam antara Muslim Indonesia dengan Muslim di Turki. Maklum, tarekat Rifa’iyyah biasanya hanya dikaitkan dengan praktik Debus di Banten, atau seni Rapai di Aceh,” ujar Prof. Oman, Minggu (13/9/2026), di hadapan para peneliti dan anggota tarekat Rifa’iyyah Istanbul.
Di hadapan para sarjana, yang sebagian adalah anggota tarekat Rifa’iyyah di Istanbul, Prof. Oman berbagi hasil penelusuran kekayaan manuskrip nusantara yang berkenaan dengan Tarekat Rifa’iyah, baik yang berbahasa Arab, Melayu, maupun Jawa-Pégon, baik yang terkait dengan silsilah, ajaran, zikir, maupun ratib.
Tarekat Rifa’iyyah adalah salah satu tarekat tertua yang dinisbatkan kepada Syekh Ahmad al-Rifa’i al-Kabir (w. 1182 M), seorang Sufi asal Irak, pemilik nasab yang tersambung hingga ke ahlul bait, melalui ‘Ali bin Abi Thalib r.a. dan Fatimah r.a. , putri Rasulullah Saw.
Menurutnya, meski bukan tarekat utama yang berkembang di Indonesia, namun manuskrip Nusantara tentang Rifa’iyyah ternyata cukup melimpah. Berbagai salinannya tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Jakarta, dan sebagian lainnya tersimpan dalam koleksi-koleksi pribadi atau keluarga.
“Selama ini pengkaji Islam Indonesia belum banyak menyadari bahwa kekayaan manuskrip Rifa’iyyah bernaskah Arab, Melayu, hingga Jawa-Pegon sangat melimpah. Salinannya tersebar mulai dari Perpustakaan Universitas Leiden, Perpustakaan Nasional RI, hingga koleksi pribadi masyarakat,” sebut Prof. Oman.
Di Istanbul, kata Prof. Oman, tarekat Rifa’iyyah terus bertahan hadir mengisi kekeringan spiritualitas di era modern, berkat upaya Kenan Rifai (1867-1950), salah seorang figur sentral di akhir Kesultanan Turki Utsmani yang mengawal agar nilai-nilai tasawuf tetap dikenal di era Pemerintahan Republik Turki modern. Inspirasi Kenan Rifai bersifat lintas batas, menembus sekat negara dan bahkan agama.
“Di Kyoto University Jepang misalnya, berdiri Kenan Rifai Center for Sufi Studies, atas inisiatif Prof. Yasushi TONAGA, yang berkolaborasi dengan Prof. Elif ERHAN, Direktur Institute for Sufi Studies. Keduanya pula yang mengundang saya berbagi dalam Simposium yang diselenggarakan dalam rangka memperingati 10 tahun berdirinya lembaga riset di Jepang tersebut,” paparnya.
Prof. Oman yang juga pengasuh Pesantren Al Hamidiyah-Depok ini menilai simposium dua hari bertema tasawuf di Istanbul terasa istimewa. Para pembicara berasal dari latar belakang ilmu yang berbeda-beda, mulai dari kajian Islam, filologi, antropologi, hingga musikologi. Mereka berasal dari akademisi Turki sendiri, Mesir, Jepang, Prancis, Indonesia, Jerman, dan Korea Selatan.
“Ini adalah contoh yang baik sebuah integrasi ilmu, zikir tarekat tidak semata dipahami melalui teks, namun juga diresapi melalui ritual, alat musik, serta tinggi rendahnya tangga nada,” ujarnya.
Sebagai akademisi di kampus Perguruan Tinggi Islam di Indonesia, Prof. Oman melihat ini sebagai peluang, sekaligus tantangan, untuk melakukan penguatan kolaborasi akademik lintas kampus di level dunia: Indonesia dan Turki. Para dosen dan peneliti di kampus-kampus UIN/IAIN harus menjadi duta untuk mempromosikan peradaban Islam Indonesia agar dipandang sejajar dengan peradaban Islam dunia.
“Muslim Indonesia harus percaya diri memiliki budaya tulisan tangan (manuskrip) yang menggambarkan adanya penerjemahan Islam, terkhusus dalam hal ini penerjemahan ajaran tarekat Rifa’iyyah, ke dalam bahasa dan konteks budaya lokal di Nusantara,” tandasnya.(***)











