NASIONALNEWS

Pemerintah Tahan Harga BBM di Tengah Gejolak Global, Ini Fakta di Lapangan

 

JAKARTA – Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memutuskan untuk tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) per 1 April 2026. Kebijakan ini berlaku untuk seluruh jenis BBM, baik subsidi maupun non-subsidi, meski harga minyak dunia tengah mengalami tekanan akibat konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat.

Hingga 6 April 2026, harga BBM di Indonesia secara umum masih bertahan, di antaranya Pertalite Rp10.000 per liter, Solar subsidi Rp6.800 per liter, Pertamax Rp12.300 per liter, Pertamax Turbo Rp13.100 per liter, hingga Dexlite Rp14.200 per liter. Kebijakan ini dinilai sebagai langkah strategis pemerintah untuk menjaga stabilitas di tengah tekanan global yang belum mereda.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil untuk menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat. Ia memastikan tidak ada perubahan harga untuk BBM subsidi.

“Kami sampaikan perintah Presiden, harga BBM subsidi tidak ada penyesuaian, tetap atau flat,” ujarnya dalam konferensi pers.

Untuk BBM non-subsidi, pemerintah bersama PT Pertamina (Persero) dan operator SPBU swasta masih melakukan pembahasan lebih lanjut. Namun hingga awal April 2026, harga yang berlaku di lapangan masih belum mengalami perubahan.

Pantauan di sejumlah SPBU menunjukkan harga BBM masih sama seperti periode Maret 2026. Di wilayah Jakarta dan sekitarnya, Pertamax (RON 92) tetap dijual Rp12.300 per liter. Sementara BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar subsidi masing-masing masih di harga Rp10.000 dan Rp6.800 per liter, tanpa perubahan sejak September 2022.

Di SPBU swasta seperti BP-AKR dan Vivo Energy Indonesia, harga BBM RON 92 juga masih bertahan di kisaran Rp12.390 per liter. Namun kondisi berbeda terlihat di jaringan Shell Indonesia yang dilaporkan mengalami kekosongan stok di sejumlah titik.

Dalam keterangan resminya, Shell menyebut pasokan BBM masih terkendala proses perizinan impor tahun 2026, sehingga distribusi belum berjalan normal. Kondisi ini terlihat di beberapa wilayah Jakarta, seperti Warung Buncit, di mana SPBU swasta tidak menjual BBM karena stok kosong, sementara SPBU lain hanya menyediakan jenis tertentu.

Meski demikian, pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan mengacu pada informasi resmi agar tidak terjadi kepanikan di tengah situasi global yang bergejolak.

“Saya minta masyarakat pegang informasi resmi dari pemerintah. Kita harus lebih cerdas dalam mengelola informasi agar kondisi tetap stabil,” kata Bahlil.

Related Posts

1 of 805